Bengkulu (ANTARA) —
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bengkulu menilai penanganan abrasi Pantai Barat Sumatera belum serius yang dibuktikan dengan terus menyempitnya daratan di wilayah Bengkulu Utara dan Muko Muko.
'Pemerintah belum serius menangani abrasi pantai barat ini, justru dijadikan proyek berkelanjutan, tidak ada perencanaan yang jelas untuk mengatasi laju pengikisan daratan,' kata Anggota Dewan Daerah Walhi Bengkulu Barlian di Bengkulu, Selasa.
Ia mengatakan abrasi pantai Barat di Bengkulu tidak hanya mengakibatkan daratan terus tergerus, tapi juga mengancam jalur lintas barat Sumatera yang menghubungkan Provinsi Bengkulu dengan Sumatera Barat.
Pembangunan pemecah ombak yang dilakukan pemerintah pusat di wilayah Kabupaten Muko Muko dilakukan tanpa kajian mendalam sehingga jalan lintas barat yang ambles terus memanjang.
'Karena tidak ada studi yang menyeluruh, pemerintah menganggap ini bisa ditangani dengan membangun pemecah ombak tanpa mempelajari perputaran arus dan lain sebagainya,' tambahnya.
Akibatnya, kata dia, negara akan terus mengeluarkan anggaran untuk membangun pemecah ombak di sepanjang pantai Bengkulu dengan panjang mencapai 525 kilometer tersebut.
Menurut dia, abrasi pantai barat merupakan dampak dari penggundulan hutan pantai yang ada di pesisir.
Hampir sepanjang pantai Bengkulu, kata dia, hutan pantai sudah beralihfungsi menjadi perkebunan sawit dan pemukiman.
'Persoalan ini yang tidak dilihat sebagai sesuatu yang memicu laju abrasi semakin tinggi, hutan pantai telah habis dibabat, bahkan sawit sudah sampai ke pinggir pantai,' jelasnya.
Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bengkulu Budi Darmawansyah juga mengatakan abrasi pantai Barat Sumatera di wilayah Provinsi Bengkulu perlu mendapat penanganan serius karena mengancam sejumlah infrastruktur khususnya jalan lintas barat Sumatera.
'Khusus di Desa Urai dan Desa Serangai yang terancam putus terpaksa dialihkan ke Jalur Batik Nau-Ketahun, tapi jalan yang ambles itu masih menjadi andalan pengendara karena jaraknya lebih dekat,' katanya.
Terjangan ombak pantai barat membuat badan jalan yang memanjang di pinggir pantai tergerus hingga nyaris putus bahkan mengancam jaringan kabel listrik.
Kondisi badan jalan ini, kata dia, sangat berbahaya bagi pengguna jalan apalagi saat malam hari karena tidak ada penerangan jalan.











