IMQ, Jakarta —
PT Bumi Resoruces Mineral Tbk (BRMS) sangat menarik untuk spekulasi jangka pendek. Mengapa? bukan karena ada Bakrie dibelakangnya, namun karena BRMS ini memegang harta karun berharga bernama PT Newmont Nusa Tenggara (NTT). Lantas bagaimana prospek sahamnya?
Saat ini, BRMS memiliki 24% saham NNT melalui anak usahanya yang bernama PT Multi Daerah Bersaing, yang dimiliki oleh BRMS sebanyak 75%. Target Grup Bakrie selanjutnya adalah 7% saham NNT, sehingga nantinya BRMS akan memiliki sekitar 30% saham NNT.
Pengamat pasasr modal, Teguh Hidayat menerawang nilai 24% saham NNT yang saat ini sudah dipegang BRMS adalah sekitar US$ 870juta. Jadi secara kasarnya, BRMS membutuhkan setidaknya US$250 juta lagi untuk bisa menambah kepemilikannya di BRMS menjadi sekitar 30%.
Lalu dari mana BRMS bisa mendapatkan duit US$250 juta tersebut? Ya dari mana lagi kalau bukan dari utang. Kemungkinan besar yang akan mengurus utang ini adalah Bumi Resources (BUMI), sebagai induk BRMS. Jadi status utangnya nanti akan ditanggung oleh BUMI. Lalu apa jaminan atas utang tersebut? Saham BRMS, tentu saja.
Para bank langganan Grup Bakrie tentunya tidak akan mau ngasih pinjaman, kalau saham BRMS yang dijadikan jaminan ini nilainya jeblok. Jadi Grup Bakrie melalui para bandar akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga agar nilai BRMS tetap stabil, setidaknya diatas 650.
Meski ini hanya spekulasi, tapi kita bisa mengatakan bahwa ini adalah spekulasi dengan resiko yang rendah. "But anyway, this is still a speculation. Jika anda berminat untuk main-main dengan BRMS ini, jangan gunakan dana terlalu banyak. Idealnya 3 hingga 5% saja dari total portofolio anda. Jadi kalaupun anda terjebak cut loss, kerugian yang terjadi nggak akan terlalu besar," papar Teguh.
Untuk memainkan BRMS ini memang perlu hati-hati, karena meski resikonya rendah, namun bukan berarti resikonya nol sama sekali. Faktor utama yang mungkin bisa membuat BRMS jeblok adalah karena status kepemilikannya terhadap NNT sebesar 24%, masih dipersengketakan oleh beberapa pihak.
Masyarakat Nusa Tenggara sendiri dikabarkan menolak kehadiran Bakrie disana. Ketika pertengahan Desember kemarin BRMS dikabarkan mendapat dividen US$ 40 juta dari NNT, tidak ada konfirmasi pasti apakah dana tersebut masuk semuanya ke kas BRMS atau tidak. Mungkin dana US$ 40 juta tersebut akhirnya harus dibagi-bagi untuk banyak pihak, yang entah siapa saja mereka.
"Selain itu dalam upayanya untuk menguasai NNT ini, Bakrie tidak sendirian. Ada banyak pengusaha besar yang juga sangat berminat untuk menguasai salah satu tambang emas terbesar di Indonesia ini," pungkasnya.











