IMQ, Jakarta —
Bisnis jasa transportasi khususnya transportasi udara, mungkin bukanlah bisnis yang cukup menguntungkan. Hal itu karena armada pesawat terbang harganya sangat mahal, mencapai ratusan milyar Rupiah per unit (sehingga beberapa maskapai lebih memilih menyewa pesawat daripada membelinya). Lantas bagaimana prospek saham PT Garuda Indonesia ke depan?
Pengamat pasar modal, Teguh Hidayat menjabarkan GI adalah maskapai penerbangan eksklusif dengan harga tiket yang mahal. Untuk Jakarta–Singapore, harga tiketnya yang paling murah ketika artikel ini ditulis adalah US$111 atau Rp1 juta. Itu berarti sekitar tujuh kali lipat lebih mahal dibanding tiket Air Asia, yang itu juga berarti harga tiket GI jauh lebih mahal dibanding ongkos bus manapun.
"Selain itu biaya operasional untuk bahan bakar terbilang tinggi karena harus mengikuti harga minyak dunia," riset Teguh seperti dikutip IMQ, Minggu (16/1).
GI akan melepas 9,4 milyar lembar saham yang setara dengan 36,5% total jumlah sahamnya, yaitu 25,7 milyar lembar. Harganya di kisaran Rp750-1.100 per lembar. Tarohlah kita ambil yang termurah, yaitu 750, maka GI akan mencatat market cap Rp750 x 25,7 milyar Rp19.3 triliun. Karena ekuitas GI adalah 3,1 triliun, maka PBV GI adalah 19,3/3,1 adalah 6,1 kali.
"Wah, ternyata mahal ya? Apalagi GI ini neracanya banyak defisitnya. Untuk membandingkan PBV ini dengan perusahaan yang bergerak disektor yang sama mungkin agak sulit, karena perusahaan penerbangan yang terdaftar di BEI hanyalah Indonesia Air Transport (IATA), dan IATA ukurannya sangat kecil dibanding GI, jadi gak bisa dijadikan komparasi," paparnya.
Tapi jika kita ambil beberapa emiten bluchip dengan ukuran aset kira-kira setara GI sebagai perbandingan, rata-rata PBV mereka adalah 4–5 kali saja. Dan kebanyakan kinerja mereka jauh lebih bagus dibanding GI, jadi harga saham GI di 750 per lembar memang cukup mahal.
Lantas bagiaman dengan PER-nya? Ia melihat tampaknya juga buruk. Dengan laba bersih yang cuma Rp195 miliar, EPS GI hanya Rp7,6 per saham. Berarti annualized PER-nya 750 / 7,6 x 3/4 adalah 74,1 kali.
Seperti dikutip dalam prospektus ringkas Garuda, kinerja GI dari sisi pendapatan terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada 2008 lalu, tapi setelah itu malah terus turun. Pada 2005, GI mencatat penjualan Rp12,6 triliun. Angka itu meningkat menjadi Rp14,0 triliun pada 2007, dan Rp19,3 triliun pada 2008. Memasuki 2009, penjualan GI mulai turun menjadi Rp17,9 triliun, dan pada 2010 ini GI kira-kira mencatat penjualan Rp16,9 triliun.











